Hidup Untuk Menunggu Mati

Posted on Maret 21, 2009. Filed under: serba-serbi, tips2kehidupan | Tag:, , , , , , |

Judul artikel ini adalah istilah yang dipopulerkan Jaya Suprana, yang dikenal sebagai kelirumolog dan juga pemilik yayasan MURI ( Museum Rekor Indonesia ). Kata Jaya Suprana “Hidup ini adalah untuk menunggu mati”.

tomb_desain_by_halim_el_bambi

 Tentu maksud Jaya Suprana bukan bahwa karena hanya untuk menunggu mati maka dalam hidup ini kita tidak usah berbuat apa-apa. Tentu ada beberapa hal yang dimaksudkan di sini,termasuk diantaranya cara kita memaknai kematian itu.

Kematian bukanlah suatu hal menakutkan. Waktu kecil dulu, kematian selalu dibentuk dalam pikiran bahwa itu sesuatu hal yang menakutkan. Orang tua kita selalu menakut-nakuti kita akan arwah jenazah  yang gentayangan, memperkenalkan istilah pocong dan sebagainya. Pokoknya serba horor.  Haha…hiiiiii sereeeeeeeeeemmmmmmm!!!!

Tapi apa sekarang yang terjadi? Kematian sudah dianggap sebagai sesuatu yang  pasti akan terjadi.Bisa terjadi pada siapapun. Siapa pun orangnya. Mau Presiden, Professor, Menteri, Tukang becak, kuli, penjahat pasti akan menghadapi sesuatu yang namanya kematian. Yang membedakan biasanya istilahnya. Kalau presiden, menteri, atau orang yang terkenal mati, maka biasanya disebut “mangkat” atau meninggal dunia, tapi kalau penjahat yang mati biasanya disebut “modar” hehe…Sekarang kematian tidak identik dengan kesedihan tapi kematian juga bisa ditertawakan, minimal bisa membuat orang tersenyum, menghela napas sambil menelan ludahnya . Lihat saja film-film horor buatan dalam negeri, setan-setan yang gentayangan diperankan oleh artis-artis  seksi, walaupun mungkin sudah dibuat seseram mungkin tapi itu tetap tidak bisa menutupi lekuk-lekuk tubuhnya yang seksi. Nulis tentang kematian kok masih bisa memikirkan keseksian yaa…

Hidup dan mati kita tergantung pada Sang Pemberi Hidup, Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau Sang Pemberi Hidup masih menginginkan kita hidup ( tentunya supaya kita bertobat dari dosa2 kita ), maka kita akan hidup. Tapi kalau DIA menginginkan kita pulang ke rumah_Nya maka “bablas nyawane” ( meniru iklan obat masuk anginnya Basuki ).

Baru-baru ini saya ke rumah sakit menjenguk orang tua salah satu rekan kerja. Kebetulan dirawat di ruang ICU. Hampir semua pasien dalam ruangan itu memakai ventilator sebagai alat bantu pernapasan. Memang ilmu pengetahuan dan teknologi telah mampu menciptakan alat-alat kedokteran yang canggih. Mampu membuat napas menjadi lebih panjang, membuat jantung tetap berdetak, membuat darah supaya tetap mengalir. Tapi itu bisa menjadi sia-sia bahkan bisa menjadi siksa sakit yang luar biasa kalau memang Sang Pemberi Hidup tidak memberi ijin lagi untuk hidup. Karena itulah hampir semua agama mengajarkan tentang Keikhlasan. Supaya kita tabah, bisa mengucapkan “selamat tinggal” kepada orang yang sudah “selesai menunggu”

Jadi karena hidup itu adalah untuk menunggu mati, maka sambil menunggu datangnya kematian itu, kita harus bekerja, punya kesibukan, yang bisa memberi manfaat bagi alam dan mampu memaksimalkan kehidupan kita, Jangan bengoong melulu. … seperti lazimnya orang yang menunggu kekasihnya . Tapi perlu diingat juga, sambil menunggu mati, adakalanya kita juga harus mencicipi yang namanya kesengsaraan hidup. Tapi semua itu harus diterima dengan ikhlas….

Karena hidup ini adalah untuk menunggu mati…..     

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: