Kendalikan Emosi Dengan Menulis

Posted on Desember 30, 2008. Filed under: tips2kehidupan | Tag:, , , , , , , |

Mungkin tulisan-tulisan  dalam blog saya ini tidak bagus-bagus amat bahkan ada yang mungkin masuk dalam  kategori yang tidak pantas untuk diposting dan dibaca oleh orang banyak. Misalkan tulisan tentang “bicara tentang seks” yang bercerita pengalaman “hitam” saya tentang kata itu” seks”.  Salah seorang teman baik saya mengejek begini : “Keburukan diri sendiri “kok” dipamer-pamerin ke orang lain”. Ejekan teman ini saya tanggapi dengan senyum saja. Bagi saya lebih baik mengungkap sisi buruk  diri sendiri dari pada mengungkap sisi buruk orang lain. Walaupun ternyata saya justru lebih banyak     melakukan hal terakhir, mengungkap sisi buruk orang lain.

 

Saya tidak tahu sudah berapa tulisan saya yang kalau dibaca langsung oleh orang yang dituju akan membuat orang tersebut marah, tersinggung, kecewa, menangis dan mungkin akhirnya memusuhi saya.   Yang penting bagi saya waktu itu, setelah  menulis artikel-artikel tersebut emosi saya terlampiaskan. Jadi saya tidak perlu melampiaskan emosi  saya langsung pada orang lain. Saya tidak pernah memikirkan efek jangka panjangnya, efek bagi orang tersinggung, bahkan efek pada masa depan saya sendiri. Memang kalau saya membaca ulang artikel saya tersebut, saya akui bahwa memang tulisan tersebut dipenuhi rasa emosional yang sangat dalam. Akhirnya saya memutuskan untuk menghapus beberapa artikel yang saya anggap terlalu emosional itu.

 

Saya akui bahwa setiap kali saya selesai menulis artikel-artikel seperti itu, pikiran dan hati saya  kembali “dingin”. Tapi saya juga tahu dengan pasti tulisan-tulisan tersebut akan membuat pikiran dan hati orang yang disinggung menjadi panas. Saya memang lebih lancar menulis kalau pikiran saya lagi kalut, saya lagi marah, benci, stress, jengkel dan perasaan lain yang tidak terkontrol. Biasanya setelah menulis, saya langsung menyimpan atau mempostingnya dan saya jarang membacanya lagi. Saya membacanya lagi kalau memang tidak ada yang dikerjakan ( kayak orang sibuk saja hehe…. ). Dan apa yang terjadi kalau saya  membacanya ???

 

Saya sering tertawa dan malu-malu sendiri terhadap tulisan-tulisan saya itu. Ternyata saya masih seperti anak-anak, tidak dewasa, dan konyol. Kok saya bisa menulis dan memposting tulisan-tulisan yang tidak bermakna seperti itu. Itulah setidaknya penilaian yang saya berikan untuk diri saya sendiri.   

 

Tapi saya tahu itu adalah proses belajar. Saya bukanlah Pramodyea Ananta Toer yang bisa menulis dengan sangat baik justru dalam keadaan tertekan pikiran dan jiwanya sewaktu dia mengalami pembuangan di Pulau Buru. Saya juga bukanlah Dahlan Iskan ( CEO Jawa Pos ) yang bisa menulis buku yang sangat dramatis “ Ganti Hati” sewaktu beliau dalam perjuangan diantara hidup dan mati dalam operasi transplantasi liver di Tiongkok. Saya tetaplah saya yang baru belajar menulis kurang lebih setahun ini. Tepatnya setelah saya mengenal dunia blog. Memang kelihatannya sangat terlambat. Tapi menurut saya tidak ada kata-kata terlambat atau bahkan tidak ada kata terlalu cepat untuk proses belajar.    

 

Dengan menulis saya melatih diri untuk tidak melampiaskan emosi saya kepada orang lain atau kepada lingkungan sekitar. Saya belajar  untuk mengendalikan diri. Dengan begitu saya bisa semakin mengerti bahwa emosi itu tidak perlu dilampiaskan karena itu akan merugikan semua pihak dan mungkin juga diri saya sendiri.

 

Dengan menulis juga saya bisa memikirkan dan menganalisa dan bahkan bisa memberi nilai  terhadap suatu kejadian atau peristiwa yang saya alami. Sehingga membuat pikiran saya lebih jernih sehingga saya bertindak tidak menggunakan akal yang sakit tapi menggunakan akal yang sehat.

        

Tapi ada satu hal tidak bisa dipisahkan dari proses menulis. Hal itu adalah membaca. Saya paham bahwa menulis bukanlah bakat alami tapi suatu usaha yang harus diasah. Menulis juga bukanlah pekerjaan sastrawan atau wartawan saja, karenanya setiap orang bisa menulis. Tapi menulis ada syaratnya. Syaratnya cukup mudah : membaca. Untuk bisa menulis, pikiran dan jiwa  harus terisi penuh ( terisi sebagian juga gak masalah ) dengan bahan bacaan dan pengalaman hidup. Jika tidak begitu, maka bisa-bisa yang terjadi, kita bingung di depan komputer.  

  

Dengan membaca dan menulis maka kita dapatkan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat menembus sesuatu yang samar, menemukan sesuatu yang hilang, dan menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi. Dengan ilmu pengetahuan maka kita tidak akan pernah bosan dalam hidup. Karena hari ini pastilah tidak sama dengan hari esok. Seperti Tagline Jawa Pos “Selalu Ada Yang Baru”.

   

Jadi saran saya : selama masih ada pena, mesin tik, komputer, laptop yang kita miliki. Menulislah.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: