Belajar Dari Pengamat Sepakbola

Posted on Desember 21, 2008. Filed under: bola | Tag:, , , , |

Profesi lain yang sangat saya benci selain PNS adalah pengamat atau komentator-komentator olahraga khususnya pengamat sepak bola di televisi. Kalau PNS saya benci salah satunya karena proses menjadi PNS itu banyak yang tidak fair mengakibatkan banyak posisi atau jabatannya di pemerintahan yang diisi oleh orang-orang yang tidak kompeten di posisi tersebut. Tapi kalau pengamat sepakbola bukan karena tidak kompetennya maka saya membenci profesi ini. Tapi karena omongan mereka. Mereka biasanya dengan seenaknya menyalahkan pemain yang sedang bermain atau pelatih yang timnya kalah.

            Sering kita mendengar komentar-komentar :”seharusnya bola diumpan ke sini dulu….baru di tendang ke gawang …” atau harusnya bola ditendang ke gawang langsung tanpa dikontrol dulu..” atau seharusnya pelatih menggunakan strategi ini….memasukkan pemain ini….mungkin hasilnya akan lain dan sebagainya. Yang mungkin kalau komentar-komentar seperti ini didengar oleh pemain atau pelatih akan membuat kuping pemain dan pelatih panas. Dan akhirnya mereka membalas komentar :”…para komentator itu asal ngomong, tidak tahu kondisi sebenarnya di lapangan….”.

            Menurut saya tidak ada yang salah dari contoh komentar-komentar di atas. Semua berkomentar sesuai dengan porsinya masing-masing. Pemain dan pelatih memang tahu kondisi sebenarnya yang terjadi di lapangan sedangkan komentator memang bertugas memberikan komentar. Baik itu menyalahkan maupun mendukung. Mereka dibayar untuk itu.

            Salah  satu hal yang saya pelajari para komentator atau pengamat sepakbola ini adalah mereka sangat fasih, sangat percaya diri berbicara tentang teknik dan strategi bermain sepak bola, sangat menguasai teorinya dan memiliki wawasan yang sangat luas tentang informasi yang berkaitan dengan bola. Mereka  menguasai semua hal tersebut tanpa harus  langsung terlibat atau pernah terlibat langsung di dalamnya. Mereka tidak perlu menjadi pemain bola untuk menguasai teori bermain bola, tidak perlu menjadi pelatih untuk  menguasai strategi bermain di lapangan. Yang mereka lakukan untuk menguasai hal tersebut hanya tiga…..BELAJAR…BELAJAR.. dan BELAJAR. Mereka belajar dari pemain dan pelatih, menyerap ilmu dari mereka, belajar dari informasi-informasi yang bertebaran baik dari buku, media massa, dan pastinya dari internet. Dan kebanyakan dari mereka yang menjadi pengamat-pengamat sepakbola itu justru tidak punya latar belakang yang berhubungan dengan apa yang mereka komentari tersebut.

            Jadi apa yang bisa dipetik dari artikel ini ??? saya mengutipnya dari  Eni Kusuma dari Pembelajar.com “ Belajar adalah segalanya.” Belajar tidak mengenal apa pun latar belakang Anda. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Ini hanya sebuah permainan. Ya, belajar adalah sebuah permainan yang mengasyikkan. Menguasai sesuatu tidak selalu harus terlibat langsung mengalaminya. Ya seperti pengamat sepakbola tadi. Tetapi pasti lebih sempurna kalau kita sendiri mengalaminya…Jadi Jangan Putus Asa. Teruslah Belajar.

 

             

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Belajar Dari Pengamat Sepakbola”

RSS Feed for gusthy’s blog Comments RSS Feed

Bener bung.saya masih ingat pada sebua laga premier League yang saya lupa tahunnya (klu td salah tahun 2002) antara totenham VS MU. Dibabak pertam MU ketinggalan 0-3.Pada masa istirahat komentator sepakbola kita (kalau baca merasa aja)bilang “apapun yang akan dilakukan MU tidak akan menolong mereka dari kekalahan, bahkan pergantian pemain sekalipun”.Dia bahkan sangat yakin Totenham akan menambah gol di babak kedua, namun kenyataannya MU mampu membungkam mulut kotor komentator tersebut dengan membalikkan kedudukan 3-5 pada akhir babak kedua. Akhirnya sang komentator terlihat gagap setelah pertandingan usai.Setelah kejadian tersebut saya jadi sangat muak melihat muka komentator tersebut.Ia tidak pernah malu muncul berkoar-koar di layar TV.Seharusnya ia tahu diri dan segera “gantung mulut dan lidah” kotornya itu. Salama’ lako mintu’ rapu tallang.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: