Posisi Baru : Mestalak atau Mestakung ????

Posted on November 5, 2008. Filed under: kerja | Tag:, , , , |

kerja1Apapun yang kita kerjakan atau dimanapun kita berada maka kita akan selalu mendapatkan tanggapan atau respon dari lingkungan sekitar kita. Ada yang direspon positif atau didukung dan adapula yang direspon positif atau ditolak. Mestakung dan mestalak. Mestakung adalah singkatan dari semesta mendukung sedangkan mestalak sebaliknya, semesta menolak. Istilah ini dipopulerkan oleh Professor Yohanes Surya yang merupakan pendamping dari anak-anak bangsa yang berhasil menjadi juara dunia  olimpiade Fisika tahun 2006. Istilah mestakung sebenarnya adalah konsep sederhana fisika yang berarti bahwa ketika sesuatu berada dalam kondisi kritis maka setiap partikel di sekelilingnya akan bekerja / merespon serentak untuk mencapai suatu titik ideal atau keseimbangan. Sebenarnya saya sendiri belum baca bukunya, cuma baca covernya aja hehe….

            Beberapa contoh yang mungkin bisa membantu kita mengerti istilah ini….Misalnya: air bergerak dari dataran tinggi ke dataran rendah. Air ini akan berhenti mengalir jika sudah tercapai titik ideal atau titik keseimbangannya yaitu di laut. Atau kita lihat “bencana” lumpur panas Lapindo di Porong Sidoarjo, sampai kapan lumpur ini akan berhenti “muntah” dari perut bumi??? Pasti sampai mencapai titik keseimbangannya. Sebelum mencapai titik keseimbangannya maka lumpur ini akan terus keluar dari perut bumi mencari jalan termasuk dengan cara menenggelamkan lingkungan sekitarnya. Atau kita lihat dalam keseharian kita…misalnya kita lapar maka kita akan berusaha untuk mencapai titik keseimbangan…makan sampai kenyang. Atau kalau kita lagi kepanasan, maka kita akan mencari jalan untuk mencapai keseimbangan, apakah itu dengan buka baju, kipas-kipas, ke ruangan ber-AC dan sebagainya. Pokoknya apapun yang kita kerjakan akan menuju pada suatu titik keseimbangan, bisa didukung dan bisa juga ditolak. Sehingga kadang-kadang titik keseimbangan itu tercapai atau malah terlewati. Misalkan, “maaf” orang-orang miskin di sekitar kita, yang lagi kelaparan sehingga dengan terpaksa mereka mencuri untuk mencapai titik keseimbangannnya. Tentu ini akan mendapatkan penolakan dari lingkungan sekitar. Akhirnya mereka ditangkap dan mungkin dihakimi massa. Di sini keseimbangan yang diinginkan tidak tercapai. Atau orang-orang sakit yang tubuhnya tidak mampu lagi merespon obat-obat yang masuk dalam tubuhnya sehingga akhirnya mereka meninggal. Di sini titik keseimbangan itu telah terlewati.

            Begitu juga di pekerjaan. Posisi baru “dekat” dengan istilah ini, Mestakung dan Mestalak. Inilah yang saya alami sekarang, eeehhhh….bukan saya tapi mantan atasan  saya dan atasan baru saya. Terjadi pergantian posisi di antara kepala departemen. Yang satunya “naik kelas” yang dulunya di lantai dasar yang panas ke lantai 2 yang sejuk karena ruangannya ber-AC, sedangkan yang satunya lagi “turun kelas” dari lantai 2 yang sejuk ke lantai dasar yang panas karena hanya mengandalkan kipas angin tua yang sudah tidak terasa lagi “anginnya”. Berarti di sini keseimbangan yang lama “hilang” diganti dengan kondisi kritis. Mengapa saya katakan kondisi kritis????? yaaa….seperti yang dituliskan di atas bahwa setiap yang kita lakukan akan selalu respon dari lingkungan….dan sejak saya diberitahu bahwa akan ada pergantian posisi atasan hampir semua rekan-rekan di departemen saya mengernyitkan dahinya. Biasanya orang yang mengernyitkan dahinya adalah orang yang menolak, tidak setuju, atau ragu-ragu pada apa yang dihadapinya ( MESTALAK ). Sekali lagi “biasanya” bukan selamanya. Saya tidak tau pasti apa yang ada dalam benak mereka, saya cuma menyimpulkannya sendiri. Saya dan rekan-rekan sekarang menghadapi kondisi kritis. Karena di dunia kerja maka yang biasanya yang menyesuaikan adalah bawahan termasuk saya. Walaupun tidak selalu.  Arah keseimbangan ditentukan oleh atasan. Jika tidak berhasil menyesuaikan diri dengan atasan maka keseimbangan tidak akan tercapai, maka yang terjadi adalah  pekerjaan amburadul, tidak semangat, dan tidak ada motivasi. Akhirnya prestasi kerja menurun, kepercayaan boss hilang, dan ujung-ujungnya akhirnya “action” pamungkasnya adalah mengundurkan diri atau yang lebih parah di “PHK” hehe…

            Tapi semoga itu tidak terjadi, semoga saya dan rekan menyesuiakan diri dengan kinerja atasan atau bahkan mungkin lebih dari itu, kami mampu “memanage” atasan. “memanage” bukan memerintah lho ya…Intinya adalah seorang bawahan kalau memang cukup cerdas, harus bisa membuat atasannya memenuhi keinginannya. Tidak harus selalu keinginan atasan yang berlaku. Tentu ada caranya, soal kemampuan kita memanajemeni atasan. Kalau seorang bawahan tidak mampu melakukan itu, berarti bukan bawahan yang cerdas.  Caranya macam-macam…bisa dengan gaya “tunduk bersujud”, “memohon” atau “mengiba” atau apapunlah acaranya. Yang penting, keinginan kita yang kita yakini benar bisa dipenuhi oleh atasan.

            Tapi pertanyaannya sekarang ????? Apa saya adalah bawahan yang cerdas ?????… ( ditulis di kos-kosan, Selasa 4 Nop 2008  jam 2.35 dini hari )

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Posisi Baru : Mestalak atau Mestakung ????”

RSS Feed for gusthy’s blog Comments RSS Feed

teorinya mirip dengan yang diungkapkan di buku alchemist


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: