Pengemis…..

Posted on Oktober 26, 2008. Filed under: Pengalaman Pribadi | Tag:, , , , , |

Dalam keseharian kita, khususnya bagi kita yang tinggal di kota-kota besar , yang  namanya pengemis adalah hal yang sering kita temui. Kalau di desa atau di kampung mungkin masih jarang kita temui, mungkin karena rasa malunya  yang masih tinggi atau bisa saja karena merasa percuma menjadi pengemis karena semua orang sama-sama miskinnya. Fenomena pengemis ini semakin hari semakin berkembang bentuk dan caranya. Pengemis bukan saja yang seperti sering kita temui yang identik dengan pakaian kotor, lusuh , badan tidak terawat, ada luka ( mungkin dibuat-dibuat ), tapi ada juga “pengemis” yang berpakaian necis, berdasi, bahkan punya tanda pengenal. Dalam kesempatan ini, saya membagi beberapa kategori pengemis yang pernah saya pernah saya temui…

 

Pertama, pengemis yang “benar-benar pengemis. Artinya mereka menjadi pengemis karena “keterpaksaan”. Tidak ada pekerjaan yang lain yang bisa dilakukan selain mengharapkan belas kasihan dari orang lain.  Dalam hati kecil mereka, sebenarnya mereka malu untuk melakukan “pekerjaan” ini. Yang termasuk dalam kategori ini antara lain : orang-orang tua / lanjut usia yang tidak punya sanak keluarga atau tidak diakui oleh keluarganya ( bertobatlah keluarga-keluarga yang demikian ), orang-orang cacat yang kesulitan bekerja karena kekurangan anggota tubuh.

 

Kedua, pengemis yang menjadikan pekerjaan mengemis menjadi suatu profesi. Artinya mereka menganggap diri mereka bekerja jika mereka mengemis. Celakalah orang-orang yang seperti ini. Mereka sebenarnya masih bisa dan kuat untuk bekerja secara normal tapi karena kemalasanlah  yang membuat mereka kehilangan rasa malu dan  akhirnya menjalani “profesi” ini. Saya sering menemui yang seperti ini di tempat saya yang bekerja. Biasanya mereka berkelompok dan  punya waktu rutin dalam menemui “customernya”. Biasanya 2 atau 3 hari sekali mereka berkunjung. Dan apa yang saya lakukan menghadapi yang seperti ini ???? Saya cuek, tidak peduli, dan diam seribu bahasa…dalam hati kecilku “enak sekali kalian, kerjanya Cuma minta-minta, sedangkan saya untuk mendapatkan gaji harus bekerja keras, banting-tulang…sering diomeli lagi.  Menurut saya, pengemis yang seperti ini, tidak usah diberi supaya mereka sadar ( kalau bisa ) bahwa memperoleh uang tidak semudah menengadahkan telapak tangan seperti yang mereka lakukan.

 

Ketiga, Pengemis “Spritual”. Jangan salah sangka dulu. Yang saya maksud disini bukan “mengemis” ( baca : meminta ) kepada Tuhan untukk dikasihani ( kalau ini sih, harus dilakukan ), tapi yang saya maksud adalah  mengemis karena alasan-alasan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat “rohani”. Seperti meminta sumbangan untuk pembangunan rumah ibadah, kotak amal di tempat-tempat keramaian. Atau yang akhir-akhir ini sering saya temui , orang “berdasi” dan punya tanda pengenal yang membagikan amplop mengharapkan sumbangan orang yang akan masuk atau keluar dari ruangan ATM. Saya sampai berpikir apakah orang-orang seperti ini sudah “dicuci otaknya” sehingga mereka mau secara ( sepertinya ) sukarela  mau bekerja seperti itu,  mereka digaji atau tidak…Mengapa saya masukkan dalam kategori pengemis??Menurut saya, kalau kita merencanakan membuat sesuatu, segala sesuatunya harus dipersiapkan / direncanakan termasuk dananya. Memang dalam suatu rencana keuangan / pendanaan ada item “sumbangan donatur”. Tapi itu Cuma beberapa persen dari total kebutuhan dan kita tidak bisa terlalu mengharapkan itu. Jadi kalau kita mengharapkan sumber pendanaan sebagian besar dari sumbangan donatur maka sama artinya kita melompat dalam kegelapan, tidak tahu apa yang akan kita tuju. Dan akhirnya cara yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan adalah “mengemis” seperti cara di atas.

 

Keempat, Pengemis “intelektual”. Yang saya maksud di sini bukan cara mengemisnya yang intelektual tapi yang saya maksud adalah orang yang melakukannya adalah orang-orang yang menganggap dirinya  intelektual. Sering kita temui di jalan, para mahasiswa yang memakai jaket almameter kebanggaannya meminta sumbangan ke para pengguna jalan, apakah sumbangan untuk korban bancana alam, orang-orang sakit dsbnya. Bukan tidak boleh mereka melakukan seperti itu, tapi apakah itu pantas dilakukan oleh mahasiswa. Orang intelek tapi melakukan cara yang tidak intelek. Siapa yang juga menjamin bahwa semua sumbangan yang diperoleh akan diberikan sepenuhnya kepada yang berhak. Kalau cara-cara seperti ini terus dipelihara maka lama – kelamaan akan sikap mental yang buruk yang akhirnya akan terbawa pada kehidupan mereka setelah lulus nanti. Trus kalau begitu…apa bedanya lulusan kuliah dengan yang tidak kuliah???.

 

Mungkin masih banyak kategori pengemis yang belum sempat tertulis di sini…sekarang kewajiban rekan-rekan semua untuk menambahkannya. GBU… 

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: